bedah urologi

sekadar catatan kecil

BNO-IVP

BNO IVP (blaas nier oversight) atau KUB (Kidney Ureter Bladder) IVU (Intra Venous Urography)

Adalah suatu tindakan untuk memvisualisasikan anatomi, dan fungsi ginjal ureter dan kandung kencing. Termasuk didalamnya fungsi pengisian dan pengosongan buli. Pemeriksaan ini diindikasikan untuk:

- Kecurigaan adanya batu disaluran kencing.
- Kecurigaan tumor/keganasan traktus urinarius.
- Gross hematuria.
- Infeksi traktus urinarius yang berulang setelah terapi antibiotik yang adekuat.
-  Pasca trauma deselerasi dengan hematuria yang bermakna.
-  Trauma dengan jejas di flank dengan riwayat shock, dan shok telah stabil.
-  Menilai/evaluasi/follow up tindakan urologis sebelumnya.

Untuk trauma traktus urinarius gold standard adalah CT scan dengan kontras. Dilakukan BNO-IVP jika tidak dapat dilaksanakan CT scan (biaya, tidak adanya fasilitas). Untuk usia anak anak, jika terdapat hematuria berapapun (any degree of hematuria) telah masuk indikasi BNO IVP, meskipun tidak terdapat riwayat shock.
Baca selebihnya »

Oktober 23, 2011 Posted by | urologi | Tinggalkan sebuah Komentar

Persiapan BNO IVP

Persiapan BNO-IVP yang baik akan menghasilkan foto BNO-IVP yang baik dan dapat memberikan data yang akurat. Persiapan yang dilakukan minimal 1 hari sebelum rÖntgen. Persiapan yang perlu dilakukan berupa puasa bicara, dan berhenti merokok minimal 24 jam sebelum rÖntgen. Perlu diperhatikan pada penderita diabetes mellitus yang mengkonsumsi metformin. Pada pasien yang mengkonsumsi metformin harus dihentikan minimal 2×24 jam sebelum tindakan. Untuk sementara waktu obat anti hiperglikemik digantikan dengan obat jenis yang lain. Pemberian metformin bersama dengan kontras iodine (contohnya urografin, iopamiro) dapat menyebabkan asidosis laktat.

Persiapan yang dilakukan berupa pemberian diit rendah serat dan gas. Idealnya adalah sebagai berikut:

Pukul Jenis diit
07.00 Sereal dan juice orange 300cc
09.00 Juice avocado 300 cc
11.00 Juice orange 300 cc
13.00 Sereal dan juice orange 300 cc
15.00 Juice orange 300cc
17.00 Juice avocado 300 cc
19.00 Cereal dan juice orange 300 cc
Untuk juice orange dapat diganti juice buah lainnya.

Baca selebihnya »

Oktober 20, 2011 Posted by | urologi | Tinggalkan sebuah Komentar

Membaca BNO IVP

Membaca suatu foto radiologis memang gampang-gampang susah. Akan terasa mudah bagi yang memiliki dasar radiologis yang kuat dan sering melakukan pembacaan foto jenis tersebut. Untuk memudahkan membaca BNO-IVP akan saya berikan dasar foto. Pada foto BNO-IVP perlu diperhatikan :

  1. bayangan dengan kepadatan yang tinggi akan tampak sebagai bayangan radioopak (berwarna lebih putih). Sedangkan bayanngan dengan kepadatan rendah akan berwarna hitam (radiolusen). Selain kepadatan, opasitas sangat dipengaruhi berat molekul (khusus hal ini kurang bermakna bagi jaringan tubuh manusia, hal ini berguna pada logam yang berbeda contohnya, logam alumunium akan berwarna sedikit kehitaman dibanding timbal untuk ketebalan yang sama).
  2. Persiapan yang buruk akan menghasilkan foto yang buruk pula. Persiapan pada hari sebelumnya seperti diit rendah gas dan rendah residu jika tidak dijalankan dengan baik akan mengakibatkan banyaknya artefak foto sehingga menyulitkan pembacaan. Misalnya kita melihat bayangan opak dikira batu saluran kencing ternyata feses.
  3. Perhitungkan dan gunakan alat rontgen yang baik, kilovolt dan miliampere harus sesuai. Hal ini akan sangat berpengaruh pada kualitas foto.
  4. hindarkan benda di daerah eksposure. seperti kancing celana dan kancing BH akan mengganggu foto, sebaiknya disingkirkan.

Foto BNO-IVP meliputi foto BNO, 5, 15, 30 dan 45 menit (full blaas) pasca penyuntikan kontras dan pengosongan buli. Dalam setyiap foto harus diperhatikan identitas foto dan waktu pelaksanaan foto.

Foto BNO

Foto BNO bukanlah foto polos abdomen. perbadaan mendasar antara foto BNO dan foto polos abdomen antara lain:

  1. foto BNO diawali dengan persiapan (baca artikel sebelumnya mengenai persiapan BNO-IVP) sedangkan foto polos abdomen dapat dilakukan tanpa persiapan. Bahkan seringkali dilakukan tanpa persiapan, contohnya pada ileus obstruktif maka pasien difoto tanpa persiapan, bahkan sebelum dipasang NGT.
  2. oleh karena foto BNO berusaha untuk menampilkan traktus urinarius dari ginjal hingga kandung kencing, maka luas eksposure harus mencakup itu semua. oleh Karena saluran kencing radiolusen dan tidak tampak dalam foto polos (setelah disuntikkan kontras akan tampak), maka digunakan tulang sebagai skeletopi ( penanda). Dalam foto BNO harus tampak/ dibatasi bidang: batas sisi atas adalah setinggi vertebra thorax X, batas sisi lateral adalah kedua alae ossis ilii harus tervisualisasi sempurna dan batas bawah adalah 2 cm dibawah simfisis pubis.  Sedangkan foto polos abdomen tidak perlu seluas itu.
  3. sesuaikan kilovolt dan miliamper. Foto BNO sebaiknya dapat membedakan antara jaringan keras (tulang), jaringan lunak (otot dan kulit), serta udara. Ketiga hal tersebut harus dapat dibedakan.
  4. oleh karena foto rontgen adalah foto 2 dimensi maka pengetahuan anatomi haruslah baik. Jaringan sisi depan akan tumpang tindih dengan jaringan sisi belakang. Contohnya batu kandung empedu mungkin dikira sebagai batu ginjal, oleh karena jika dilihat dengan sinar AP (dari depan ke belakang) batu kandung empedu berada di proyeksi ginjal. Seandainya ditemukan hal tersebut, sebaiknya dilakukan foto oblik atau lateral sehingga akan jelas di anterior atau posterior.

Baca selebihnya »

Oktober 20, 2011 Posted by | urologi | Tinggalkan sebuah Komentar

DJ Stent

Dj stent merupakan singkatan dari double J stent. Alat ini sering digunakan urolog dengan bentuk seperti 2 buah huruf J. Alat ini dipasang di ureter, satu ekornya berada di sistem pelvikokaliks ginjal dan satu lagi di kandung kemih.

Fungsi dari benda ini adalah untuk mempermudah aliran kencing dari ginjal ke kandung kencing, juga memudahkan terbawanya serpihan batu saluran kencing. Ketika ujung DJ stent berada di sistema pelvikokaliks  maka peristaltik ureter terhenti sehingga seluruh ureter dilatasi. (Sumber peristaltik berada di kaliks minoris ginjal).

Urine dari ginjal mengalir di dalam lubang DJ stent dan juga antara DJ stent dengan ureter.

DJ stent dipasang ketika (indikasi pemasangan DJ stent):

  1. menyambung ureter yang terputus.
  2. jika saat tindakan URS lapisan dalam ureter terluka.
  3. setelah operasi URS batu ureter distal, karena dikhawatirkan muara ureter bengkak sehingga urine tidak dapat keluar.
  4. stenosis atau penyempitan ureter. DJ stent berfungsi agar setelah dipasang penyempitan tersebut menjadi longgar.
  5. setelah URS dengan batu ureter tertanam, sehingga saat selesai URS lapisan dalam ureter kurang baik.
  6. operasi batu ginjal yang jumlahnya banyak dan terdapat kemungkinan batu sisa. Jika tidak dipasang dapat terjadi bocor urine berkepanjangan.
  7. batu ginjal yang besar dan direncanakan ESWL. Seandainya tidak dipasang maka serpihan batu dapat menimbulkan rasa nyeri.
  8. untuk mengamankan saluran kencing pada pasien kanker cervix.
  9. untuk mengamankan ginjal saat kedua ginjal/ureter tersumbat dan baru dapat diterapi pada 1 sisi saja.  Maka sisi yang lain dipasang DJ stent.
  10. pada pasien gagal ginjal karena sumbatan kencing, (tidak dapat dilakukan nefrostomi karena hidronefrosis kecil).

Resiko pemasangan DJ stent:

  1. berlubangnya saluran kencing.
  2. urosepsis yaitu kuman saluran kencing beredar di aliran darah.
  3. munculnya batu di DJ stent, oleh karena itu DJ stent diangkat/diganti setelah suatu waktu tertentu. Lama usia DJ stent bervariasi, umumnya 2 bulan dan terdapat yang dapat berusia 1 tahun. Jika tidak diberikan keterangan, biasanya DJ stent berusia 2 bulan. Disarankan DJ stent dicabut atau diganti setelah 2 bulan.
  4. DJ stent tak dapat ditarik. Seandainya hal ini terjadi maka diperlukan operasi terbuka.

(kioswikan)

Oktober 14, 2011 Posted by | urologi | 3 Komentar

Electrolyte Corrections ; Koreksi Elektrolit

A. Hypocalcemia

  • Normal Values: Total 8.5-10.5 mg/dl.
(Ionized 4.5-5.3 mg/dl. Use Ionized Calcium Levels before treating or Calculate Albumin Levels)
  • Inj:  Calcium Chloride, Calcium Gluconate PO: Calcium Carbonate, Calcium Gluconate
  • Dosing: 
  1. Ionized Ca. 4.0-4.4 give  0.5-1 g Ca-Gluc, IVP over 5-10 min. Repeat 8-12 hr. prn.
  2. Ionized Ca. 3.5-3.9 give 1-2 g Ca-Gluc. IVP/IVPB over 15-30 min. Repeat a4-8 hr. prn.
  3. Ionized Ca < 3.5 or symptomatic, give 1-2 gm Ca-Gluc. IVP/IVPB over 5-10 min. Repeat q1-2 hr.prn.
  • WARNING: Correct Hypomagnesia and Hyperphosphatemia. Wait min. of 30 min. before rechecking.

B. HypoMagnesia

  • Normal Values: 1.8-2.3 mg/dl
  • Inj: MgS04 PO: MgS04/Mg02.
  • Dosing: 
  1. If between 1.0-1.8 give 1-2 gm MgSo4 IVPB over 1 hr. Repeat q 6-12 hr. prn
  2. If <1.0 give 4 gm MgS04 over 2 hrs. then 2 gm MgS04 IVPB over 1 hr q 2 hrs.
  • WARNING:
  1. Hypomagnesia may cause hypokalemia and hypocalcemia.
  2. Rapid Infusion may cause hypotension and flushing. 1 gm= 8.12 meq

C. Hypokalemia (potassium)

  • Normal Values:  3.5-5.4 mEq/L
  • Inj. KCL, K-phos, PO: KCL, (K-Lyte®, K-Dur®, liquid KCL)
  • Dosing: 
  1. If 3.0-3.5 give 40mEq/L over 1 hr. (40mEq/250 ml over 2 hr.)
  2. If  <3.0, give 40mEq/100 ml IVPB q2-4 hr until depletion is corrected.
  • WARNING: Infuse through central line with continuous EKG monitoring. Don’t give more than 80 mEq before rechecking levels. Correct Concurrent Hypocalcemia

D. Hyperkalemia (potassium)

  • Normal Values: 3.5-5.4 mEq/L
  • Dosing:
  1.  If K >5.5, consider 15gm PO qd-qid  of Kayexalate (mix in water or sorbitol) to decrease levels.
  2. Stop K- IV fluids.

E. Hypophosphatemia (Phosphorus)

  • Normal Values:  2.0-4.6 mg/dl
  • Inj: K-Phos, Na-Phos: PO: Phospho-soda (20.8 mmol/5ml)
  • dosing:
  1. If between 1.5-1.9 give 0.125 mmol/kg IVPB over 4 hrs. ( max 15 mmol) or Phospho-soda 5 ml PO bid-tid.
  2. If between 1.0-1.4 give 0.25 mmol/kg (IVPB over 4 hrs. (max 25 mmol). If <1.0, give 0.375-0.5 mmol/kg (max dose 40 mmol)
  • WARNING: Avoid use of phosphate in severe hypocalcemia.. Wait 30 minutes before rechecking.
* BID- Twice a day, TID- Three times a day, PRN- as needed, Inj-Injection, PO- By Mouth, hr- hours

Juni 16, 2011 Posted by | general Emergencies, urologi | , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Contoh Format Surat Pernyataan Melaksanakan Tugas SPMT

Niih gw kasih lagi contoh format SPMT buat CPNS / PNS:

1. DOWNLOAD1

2. DOWNLOAD2

3. DOWNLOAD3

Udah ahhhh.. gw udah ngantuk niiih……

Februari 27, 2011 Posted by | general Emergencies | , , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Format Daftar Riwayat Hidup CPNS / PNS

Oalaaah nyari format daftar riwayat hidup koq susah banget. Apalagi yang diminta yang berdasarkan SK Ka. BKN no 11/2002. Tapi dasar emang gw jenius tak tertandingi, gw sih dapet aja gityu loooh….. Nih gw bagi contoh formatnya:

DOWNLOAD

Februari 27, 2011 Posted by | intermezzo | , , , , , , , , , , , , , | 3 Komentar

anang dan ashanty mantaabs..

buat cewek si tukang selingkuh, awas…. pasti ada yg membalas!!! cuihhhh….

Februari 19, 2011 Posted by | intermezzo | , , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Pimpinan DPR Undang BK Bahas Ruhut ‘Bangsat’ Sitompul

Jakarta, detikNews – Pimpinan DPR merespons surat keberatan fraksi PDIP terkait umpatan ‘BANGSAT’ politisi Partai Demokrat Ruhut Sitompul kepada politisi PDIP Gayus Lumbuun. DPR akan tetap memprosesnya dengan mengundang Badan Kehormatan (BK) DPR.

“Senin pekan depan pimpinan DPR akan memanggil BK DPR pukul 14.00 WIB,” kata Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (8/1/2010).

Sementara Gayus mengaku sudah tidak mempersoalkan masalah itu. Karena Ruhut juga sudah meminta maaf atas kata-kata kasar yang diucapkanya saat rapat Pansus Angket Bank Century.

Baca selebihnya »

Januari 15, 2010 Posted by | intermezzo | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar

Trauma Testis dan Kulit Genital (terjemah bebas)

Meskipun testis relatif dilindungi oleh mobilitas skrotum, cremasteric refleks kontraksi otot, dan tangguh tunika fibrosa albuginea, cedera tumpul (biasanya akibat dari serangan, peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan olahraga, dan kecelakaan kendaraan bermotor) dapat mengakibatkan pecahnya tunika albuginea, memar, hematoma, dislokasi, atau torsi testis. Cedera testis hasil dari trauma tumpul di sekitar 75% kasus (McAninch et al, 1984; Cass dan Luxenberg, 1991). Luka tembus akibat senjata api, ledakan, dan luka-luka penyulaan mewakili sisanya

Sedangkan hanya 1,5% dari cedera testis tumpul melibatkan kedua gonad, sekitar 30% dari hasil trauma skrotum menembus bilateral cedera (Cass dan Luxenberg, 1988, 1991 [14] [15]). Sebagian besar trauma skrotum penetrasi (72% hingga 83%) berhubungan dengan cedera nongenitourinary termasuk paha, penis, perineum, uretra, atau femoralis kapal (Gomez et al, 1993; Cline et al, 1998). Dalam konflik militer kontemporer, luka genital rekening untuk persentase yang lebih besar urologic cedera karena senjata peledak kuat terlibat dan pengaruh pelindung body armor (Thompson et al, 1998).

Diagnosis

Pecah testis harus dipertimbangkan dalam semua kasus trauma tumpul skrotum. Kebanyakan pasien mengeluhkan rasa sakit skrotum indah dan mual. Pembengkakan dan ecchymosis adalah variabel, dan derajat hematoma tidak berhubungan dengan testis keparahan cedera; ketiadaan tidak sepenuhnya mengesampingkan testis pecah, dan luka memar tanpa fraktur dapat hadir dengan pendarahan yang signifikan. Skrotum pendarahan dan hematocele bersama dengan kelembutan untuk palpasi sering membatasi pemeriksaan fisik lengkap. Seiring cedera uretra harus dicurigai dan dievaluasi ketika mengungkapkan pemeriksaan darah di meatus atau jika mekanisme cedera atau hematuria menunjukkan kemungkinan. Mandat luka tembus pemeriksaan hati-hati struktur sekitarnya, terutama pembuluh femoralis.
Baca selebihnya »

Januari 8, 2010 Posted by | urologi | , , , , , , , , , , , | 3 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.